Tuesday, October 21, 2008

Wisdom Quotes

Kita tidak akan pernah belajar tentang keberanian dan kesabaran
jika hanya ada kesenangan di dunia ini..

Monday, October 20, 2008

MANUSIA ROHANI

Pernah membayangkan manusia sebagai makhluk roh?

Mungkin ini hanya masalah kebiasaan. Kita begitu terbiasa mendengar bahwa manusia adalah makhluk individu dan makhluk sosial. Kita walaupun mungkin sudah tahu, seringnya lupa bahwa kita pun adalah makhluk roh. Habis gimana yah, yang seringnya jadi masalah kan yang berhubungan dengan tubuh kita: apa yang kita makan, minum dan pakai…

Masalahnya, kelalaian dalam hal ini bisa membawa kita pada degradasi moral yang konstan. Karena manusia diciptakan sesuai dengan gambar dan rupa Allah, maka diri kita pun terdiri atas 3 bagian, yaitu tubuh, jiwa dan roh. Paling banter, kita memikirkan atau berusaha untuk memenuhi kebutuhan jiwa yang mencakup pikiran, perasaan dan kehendak. Misalnya, ada orang yang ngomongin kamu di belakang. Kamu pasti terluka. Entah gimana caranya, kamu pasti berusaha untuk menyembuhkan luka hatimu, karena perasaan adalah sesuatu yang tak terlihat, namun dapat dirasakan. Orang lain mungkin tak dapat melihatnya, namun kita merasakannya dalam hati kita. Dan sangat mengganggu jika yang kita rasa adalah emosi yang negatif dan melukai orang lain.

Hal lebih penting yang kita kerap lupakan adalah kebutuhan roh. Lebih dalam dari jiwa, roh tersembunyi sangat jauh di dalam diri kita. Sepertinya mungkin tak ada, namun ia ada, satu-satunya yang bertahan dan kekal dari diri kita. Sungguh sayang jika banyak dari antara kita yang meletakkan hidup pada dasar yang tidak dapat bertahan, karena pada saatnya nanti semua yang kita lakukan akan diuji dengan api untuk melihat seberapa kokohnya pekerjaan tersebut dibangun.

Roh adalah satu-satunya cara kita untuk berhubungan dengan Tuhan. Kita dapat berhubungan dengan sesama melalui pikiran, perkataan dan komunikasi verbal kita. Kita dapat berbuat baik pada orang lain, dapat menyumbang sejumlah besar uang dari kocek kita, namun tanpa roh kita tak dapat terhubung dengan Dia, karena Allah adalah Roh dan barangsiapa menyembah Dia haruslah menyembahNya dalam roh dan kebenaran.

Jika manusia rohani kita tak dibangun, selain tak dapat terhubung dengan Allah, kita juga dapat kehilangan hubungan dengan orang-orang terkasih. Dalam sebuah keluarga misalnya. Jika suami dan istri hanya menjalin hubungan secara fisik dan berusaha memenuhi kebutuhan jasmani semata, maka keharmonisan takkan terjadi, karena tak ada keseimbangan. Dua kaki seringkali tak cukup untuk menyangga. Kita butuh tiga kaki agar lebih kuat berdiri. Mungkin itulah sebabnya banyak pasangan yang bercerai dan merasa tak lagi ada kecocokan. Mereka lupa memanggil Tuhan dan menyertakanNya dalam tiap bagian dalam kehidupan mereka. Banyak anak merasa terabaikan oleh orang tua padahal kebutuhan mereka jelas-jelas dicukupi. Banyak suami merasa istri mulai sibuk dengan urusannya dan tak peduli pada suami. Sebaliknya banyak istri merasa suaminya tak lagi melihat dirinya sebagai gairah terbesar. Pekerjaan, bisnis, kantor dan kesibukan lain membuatnya berpaling. Pekerjaan seolah sudah membuatnya berselingkuh dan menjadikannya istri kedua. Mengapa bisa begitu? Karena mereka tak membangun manusia rohani mereka.

Yang menyedihkan, yang tampak seringkali bukanlah yang sebenarnya. Seseorang dapat terlihat bahagia dan ceria dengan keadaannya padahal, dalam hati ia menanggung beban yang berat. Seiring kemajuan teknologi, bertambah pula tuntutan manusia terhadap manusia lainnya. Jika tidak, tentu buku-buku pengembangan diri takkan laris dibaca dan dibeli orang. Banyak orang menampilkan senyum terbaik mereka sementara hati mereka mengalami luka terbesar.

Jika kita mengisi barang-barang mewah ke tempat yang seharusnya diisi oleh Tuhan, kita takkan mendapat hasil apapun selain kekosongan. Namun jika Tuhan kita ijinkan mengisi bagian hidup kita, Dia berjanji akan menambahkan semuanya itu pada kita.

Jika pada saat ini, di puncak kejayaan kita sebagai manusia kita dapat membeli dan memiliki apapun dalam hidup tapi masih merasakan kekosongan dalam jiwa, lihatlah ke dalam. Siapa tahu kebutuhan terbesar kita sebenarnya berada di dalam, bukannya semua barang mewah yang kita sanggup beli tersebut..

Banyak Masalah Tapi Bahagia

Pernah merasa banyak masalah tapi bahagia? Mungkin pernah.

Kadang-kadang.

Jarang, maksudnya.

Jarang kita punya banyak masalah namun bahagia. Yang ada kelimpungan, depresi, tertekan, kecewa, mengeluh, lari, berontak. Jarang benar-benar bahagia.

Agak aneh buat kita kalo ada yang bilang ‘berbahagialah kamu kalo kamu banyak masalah’. Atau ‘diberkatilah kamu karena banyak orang mengabaikan kamu’. (Hmmggh, pengen ngetok kepalanya kalo ada yang sampe berani bilang gitu!). Tapi, kenyataannya, Alkitab menganjurkan kita. Walau mungkin nggak persis seperti itu, Yesus sendiri dalam khotbahNya di atas bukit mengatakan ‘Berbahagialah mereka yang miskin karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Mungkin kamu pikir kedua hal tersebut gak mirip. Tapi saya melihat kaitan yang erat antara keduanya.

Yang disebut miskin di sini bukan miskin karena kita gak punya duit, atau memang bukan dari golongan kokay, tapi miskin secara rohani, yang kalo bisa diterjemahkan : ‘seseorang yang punya ketergantungan pada orang lain untuk bertahan hidup’. Dan ketergantungan itu kita taruh pada Tuhan karena kita tahu bahwa di luar Dia kita nggak utuh, kurang lengkap, kekurangan, miskin dan tersesat. Dan, karena menyadari kebutuhan kita dalam hal ini, maka kita pun mendekat kepadaNya DAN menjadi lebih dekat denganNya. Coba kalo kita merasa baik-baik saja, akankah kita terus meningkatkan hubungan kita dengan Tuhan? Mungkin. Tapi biasanya, saat kita merasa nggak berdaya barulah kita sungguh-sungguh berharap kepadaNya. Biasanya, di saat masih kuat kita akan berusaha dengan segenap kemampuan kita sebelum menyadari bahwa kemampuan itu terbatas.

Kadang, pengalaman dihancurkan, diobok-obok, ditekan, ditindas, dan dihempas memang Tuhan ijinkan terjadi agar kita sungguh-sungguh bergantung sepenuhnya kepadaNya. Bisa jadi dengan begitu kita dapet pemahaman baru. Bisa jadi kita terinspirasi untuk melakukan sesuatu (membantu orang lain yang punya pengalaman yang sama, menulis buku ‘how to’ karena sudah pernah mengalami, dsb), atau iman kita naik pada tingkatan yang lebih tinggi dari sebelumnya.

Mungkin ini terdengar klise. Atau mungkin malah absurd dan konyol, tapi ini nyata, senyata bintang yang bersinar menunjukkan arah di malam yang gelap. Berbahagialah orang yang bertahan dalam pencobaan, sebab apabila ia sudah tahan uji, ia akan menerima mahkota kehidupan yang dijanjikan Allah kepada barangsiapa yang mengasihi Dia. Saya percaya, mahkota ini tidak hanya akan kita terima dalam kekekalan nanti, tapi juga saat ini. Ada upah yang tersedia jika kita sanggup bertahan.

So, hold on, champions, stand still and be strong, cause with Him we are more than conquerors!

Friday, October 10, 2008

Menjadi Orang Besar

Semua orang pasti pernah denger nama-nama ini:

Disneyland ... Oprah Winfrey ... Wolfgang Amadeus Mozart ... Starbucks ... Michaelangelo ... Leonardo da Vinci ... Apple ... Denzel Washington ... Prada ... Rev. Billy Graham ... Menara Eiffel ... Brad Pitt ... Heidi Klum ... Manolo Blahnik ... Alicia Keys ... Beethoven ... Monalisa ... Chanel ... Jimmy Choo ...

Oke. Kamu pasti pernah denger nama-nama itu, berani taruhan, paling gak separuhnya.
Pernah gak memikirkan kenapa nama-nama besar tersebut bisa tetap berada di atas dan gak sirna seiring berlalunya waktu? Katanya sih ada trik rahasia untuk jadi orang besar. Ini adalah beberapa di antaranya..
  • Miliki nilai tambah.
Nama-nama di atas sudah jadi merk yang besar, hingga setiap orang yang 'memesan' merk ini hampir bisa dipastikan nggak akan kecewa. Apapun bidang mereka, mereka telah berhasil nggak cuma membuat citra, namun juga menjaga kualitas. Pekerjaan kita sebenarnya tidaklah sepenting bagaimana kita mengerjakannya. Jika kamu merasa suatu saat stuck dalam pelajaran, tugas2, pergaulan, sibuk memikirkan 'kenapa saya tidak seberhasil atau seberuntung orang lain', mungkin yang harus kamu lakukan adalah meneliti kembali bagaimana kamu menjalani peran-peranmu dalam hidup. Jika apa yang kamu kerjakan memiliki nilai tambah, gak mustahil keberhasilan yang sama seperti nama-nama di atas akan kamu raih.
  • Tahu bagaimana melayani orang lain.
Paling tidak, kita harus punya sesuatu yang bermanfaat bagi orang lain. Jika kamu berpikir bahwa yang terpenting adalah bertahan hidup, kamu keliru. Yang terpenting adalah ikut berkontribusi pada dunia sekitar dengan apa yang ada pada diri kita. Talenta, tenaga, pemikiran, sikap kita, semua itu diberikan Tuhan tidak dengan percuma. Dia ingin kita mengembangkan diri kita dan memberikan yang terbaik bagi orang lain. Ingatlah prinsip utamanya: Apa yang kita tabur, akan kita tuai; apa yang kita beri, akan kita terima kembali. Prinsip ini takkan berubah selama bumi masih ada. Pikirkan apa-apa saja yang ingin kamu terima dari kehidupan ini dan mulailah menabur benih yang baik.
  • Jalani tujuan yang Tuhan tetapkan bagi kita.
Kita tidak akan pernah berhasil selama kita tidak menjalani apa yang telah ditetapkan bagi kita. Orang paling kaya di dunia ini pun takkan menggunakan laptopnya jadi ganjal meja, bukan? Mereka yang mengetahui fungsi laptop akan memberdaya gunakannya sesuai fungsi dan kapasitasnya. Hanya orang bego yang jadiin laptop sebagai pengganjal meja. Demikian juga kita takkan salah fungsi jika berada di tangan yang tepat. Ketidak tahuanlah yang membuat hidup kita 'kurang berguna'. Mungkin banyak talenta Tuhan taruh dalam dirimu, namun karena kamu belum tahu cara menggunakannya (atau mungkin malah belum tahu bahwa kamu memilikinya), jadi hidupmu kurang maksimal. Jika kamu tak berusaha mencari tahu, bisa jadi kisahmu akan berakhir seperti kisah si laptop tadi. Jika kamu belum tahu apa yang harus kamu kerjakan dalam hidupmu, bertanyalah pada Allah yang membentuk dan menciptakanmu. Dan jalani apa rencanaNya bagimu.
  • Lakukan dengan sepenuh hati.
Menurut Oprah, uang dan kesuksesan akan mengejar kita jika kita melakukan yang terbaik. Jangan pernah pikirkan keuntungannya. Jangan hitung-hitungan dengan pekerjaanmu. Lakukan saja sepenuh hati. Kita semua adalah sama di hadapan Tuhan. Baik hamba atau orang merdeka akan menerima balasannya dari Tuhan, jika kita berbuat baik. Jika bisa jadi yang terbaik, jangan puas hanya dengan jadi baik!

Ini mungkin hanya beberapa cara untuk jadi berhasil. Masih ada banyak trik yang bisa kita pelajari, terutama dari Alkitab. Alkitab gak pernah kehabisan bahan untuk mengajar dan menginspirasi kita. Selain itu, Tuhan menempatkan orang-orang dan pengalaman-pengalaman dalam hidup kita agar kita dibentuk menjadi serupa dengan gambaran AnakNya.

Masalahnya, kehidupan bagaimana yang sedang kita jalani? Yang seturut dengan kehendak Tuhan ataukah tepat seperti apa yang kita inginkan?

Tak Semuanya Tentang Kita

Kita suka sibuk (atau disibukkan?) dengan segala urusan kita. Cita-cita kita, pelajaran kita, masalah kita, kegiatan kita, impian kita, keinginan kita, kebutuhan kita, semua tentang kita deh pokoknya!

Pernahkah suatu hari dalam hidup kamu memikirkan bahwa hidup ini tak hanya berkisar soal kita? Bahwa hidup ini dikaruniakan kepada kita adalah satu hal, sedangkan bagaimana cara kita mengelola kehidupan adalah hal lain. Kadang, saking sibuknya kita, kita jadi lupa bagaimana seharusnya kita menempatkan Tuhan dalam skala prioritas kita.

Sebagai bejananya Tuhan, ada kalanya kita pun perlu mengosongkan diri kita untuk memberi tempat kepada Tuhan dan rencanaNya bekerja dalam diri kita. Jika bejana kita terlalu penuh dengan segala sesuatu tentang kita, bagaimana mungkin Tuhan mau bekerja? Ingat ketika murid-murid menghadapi gelombang dan angin ribut? Mengapa demikian? Di mana Yesus ketika itu? Ia diberi tempat di buritan dan tertidur di sana! Jangan sampai Tuhan hanya kita beri tempat di buritan dalam kapal perjalanan hidup kita. Jika Dia sampai tertidur di sana, bisa celaka nanti perjalanan kita!

Kadang, mungkin Tuhan mau bekerja, tapi karena kita terlalu sibuk dengan urusan kita, jadi Dia menahan DiriNya. Seringkali kita bagaikan perempuan Samaria yang sibuk menimba dari sumur Yakub, walaupun tahu bahwa dengan demikian kita masih akan merasa haus lagi. Kita lupa bahwa sebenarnya kita bisa datang pada Sumber Air Hidup, yang membuat kita takkan haus lagi, malah justru mengalirkan mata air dari hati kita.

Jika kamu sedang menyusun rencana untuk masa depanmu, itu baik, tapi jangan lupa untuk memasukkan 'batu-batu besar'nya terlebih dahulu agar 'batu-batu kecil' sisanya bisa masuk dan muat ke dalam bejanamu. Jangan pernah lupa untuk mencari tahu apa tujuanmu diciptakan, karena Tuhan punya satu tujuan istimewa yang takkan dapat dipenuhi oleh siapapun selain kamu. Begitu pula dengan tiap orang di dunia ini. Jangan biarkan hidupmu berlalu tanpa lagu yang belum dimainkan dalam jiwamu. Alirkan jati dirimu. Alunkan musik dalam hatimu. Nyalakan api kecil yang ada pada dirimu. Beri tempat pada Tuhan untuk menyatakan perbuatan dan kemuliaanNya yang ajaib dalam hidupmu..

Thursday, August 14, 2008

Jika Tiap Orang di Dunia Ini Seperti Kamu, Kira-Kira Seperti Apa Jadinya Dunia Ini?

Pernah gak memikirkan apa yang akan terjadi jika tiap orang di dunia ini seperti kamu?
Kira-kira, akan bertambah baik atau buruk yah, keadaan dunia ini?
Jika keadaan dunia ini semakin buruk, sepertinya ada hal-hal yang harus diubah deh dalam diri kamu..

Atau, jika masih belum dapet bayangannya, pikirkan saja, kira-kira bagaimana kesanmu jika kamu punya sahabat seperti dirimu? Maukah kamu berteman dengannya? Maukah kamu menerima segala kesalahan dan kekurangannya? Jika kamu merasa enggan berteman dengan orang sepertimu, mungkin kamu sendiri yang bisa menjawab hal-hal apa saja yang perlu kamu ubah untuk menjadikan dunia ini lebih baik...

Thursday, July 17, 2008

Dipandang Sebelah Mata

Pernah dipandang sebelah mata? Asyik banget gak diperlakukan seperti itu? Hmmhh.. sorga pun serasa neraka jika kita berada di antara orang-orang yang memandang sebelah mata pada kita. Kita bakal jadi minder, malu, terhina, gak dianggap, menyedihkan deh!

Mungkin semua orang akan merasakan hal yang sama jika dipandang sebelah mata. Tapi percayalah, diperlakukan seperti itu bukanlah akhir dunia. Diperlakukan tidak adil atau dipandang sebelah mata seringkali jadi awal yang baik bagi kita untuk melakukan sebuah lompatan besar dalam hidup.

Okay. Mungkin ini sukar dimengerti. Namun, cobalah memikirkan kemungkinan yang akan terjadi sebaliknya. Seandainya kita disanjung, dianggap hebat, dikagumi, dipuja orang, pokoknya kabar yang tersiar tentang kita begitu hebatnya hingga semua orang mengangguk hormat pada kita. Karena begitu dikagumi, dihormati, dipuja, disanjung, pasti semua mata tertuju pada kita, mengamati, mengawasi, menantikan sesuatu yang baik terjadi, mengharapkan yang terbaik dari sikap kita, kinerja kita, kapabilitas kita, judulnya semua yang terbaik dari diri kita. Kita dituntut untuk menunjukkan diri kita persis seperti apa yang orang katakan tentang kita. (Padahal hiks, kadang diri kita gak hebat-hebat amat, kok, minimal gak sehebat itulah…). Hari demi hari, banyak masa dan ketika berlalu, dan kemudian… entah bagaimana, waktu membuktikannya.

Ternyata kita tidak sebaik yang dikira orang. Kita tak sehebat kata orang, tak semenarik kekaguman orang, bahkan tak ada apa-apanya dibanding sederet pujian yang tadinya dipikir orang tentang kita. Apa yang akan terjadi? Kita malu. Marah. Kecewa terhadap diri sendiri (kalo kita punya hati nurani). Dan… harus belajar merendahkan diri mempelajari banyak hal yang tadinya kita anggap kita punya.

Jika saja tadinya kita dianggap sebelah mata, nggak terlalu dianggap, nggak dikagumi orang, mungkin kita bisa melakukan apapun tanpa beban. Jika saja orang tak menuntut apapun dari kita, mungkin kita bisa memberikan yang terbaik tanpa merasa bahwa itu adalah suatu kewajiban. Namun, tuntutan orang membebani pundak kita. Kita nggak bisa lagi bergerak dengan bebas karena terhimpit beban itu. Coba kalo tadinya kita nggak diperhitungkan.. paling-paling tantangannya hanya membuktikan pada dunia nilai kita yang sebenarnya. Berusaha melakukan yang terbaik tanpa perasaan terbebani. Nggak mustahil pandangan orang yang tadinya sebelah mata justru berbalik mendukung kita melihat sikap dan perbuatan kita yang ternyata nggak bisa dipandang sebelah mata tersebut..

Lebih baik orang melihat dulu kemampuan kita baru berkomentar. Mungkin di awal orang pikir kita gak sanggup. Orang pikir kita bukan siapa-siapa. Orang mungkin gak memperhitungkan kita. Tapi setelah melihat kinerja kita, pikiran mereka barulah terbuka. Nilai diri kita yang sebenarnya akan menampakkan dirinya sendiri. Mungkin pada awalnya emas hanya terlihat bagai bongkahan lumpur. Namun, setelah melalui proses pemurnian, ia akan menampakkan nilainya. Emas, bagaimanapun dan dimanapun berada, tetaplah emas.

Dipandang sebelah mata memang menyakitkan, tapi bisa jadi cara yang sangat baik untuk memproses diri kita bergerak melawan arus. Patahkan pendapat buruk orang lain terhadap dirimu. Jika kamu memang bukan seperti apa yang orang bilang, buktikanlah dengan perbuatan, jangan dengan perkataan..

Perasaan Bersalah

Pernah dikejar rasa bersalah? Gimana rasanya? Gak enak? Gak nyaman? Atau gabungan dari keduanya?

Perasaan bersalah memang kerap menghantui kita. Ia akan terus mengejar kita tanpa henti, sampai kita menyerah dan berhenti, memperhatikan apa yang disampaikannya pada kita. Bahkan jika tak ada seorang pun mengetahui apa yang kita perbuat, hati nurani berwujud perasaan bersalah akan memperingatkan kita akan kesalahan tersebut.

Walaupun kadang terasa mengganggu, perasaan ini berfungsi juga sebagai detektor pribadi kita. Kita jadi tahu ada yang tidak beres dalam hidup. Kita jadi tahu bahwa ada sesuatu yang salah dalam perbuatan kita. Tanpa perasaan ini, bisa-bisa kita akan berakhir di neraka tanpa menyadari apa kesalahan yang kita perbuat. Atau berada di pengadilan tanpa menyadari bahwa kitalah si pembunuh..

Hati nurani memang tak bisa dibohongi. Kecuali ia diabaikan, dia akan terus berteriak, mengingatkan kita, melambai-lambaikan tangannya pada kita agar kita berhenti sejenak dan memberitahukan ada bahaya jika kita terus saja berjalan tanpa menyadari bahwa ujung perjalanan itu adalah maut.

Mengapa Adam dan Hawa diusir dari Taman Eden? Apakah karena Allah itu kejam? Bukan, melainkan agar mereka tidak tinggal dalam dosa dalam kekekalan. Mereka sudah berbuat dosa, namun dengan penebusan darah anak domba, mereka diselamatkan. Jika mereka tetap tinggal di sana, bisa-bisa mereka takkan menikmati lagi persekutuan dengan Allah di sorga kelak.

Tiap kita memang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah. Namun kita perlu untuk keluar dari lumpur itu. Di sinilah hati nurani berperan dalam hidup kita: untuk mengingatkan bahwa apa yang kita lakukan itu salah dan tak berkenan kepada Tuhan.

Menurut survey, anak yang biasa dimanja dan tak pernah ditegor bisa berakhir menjadi seorang pelaku kriminal. Mengapa? Karena ia sudah tak bisa membedakan mana yang salah dan mana yang benar. Namun, seorang anak yang telah terbiasa ditegor, diberitahukan kesalahannya, diajari nilai-nilai benar dan salah akan terbiasa dengan hal itu dan bertumbuh dalam nilai yang telah dianutnya sejak kecil. Hati nuraninya bagaimanapun, akan lebih terasah ketimbang mereka yang terbiasa dibela dan tak disalahkan.

Mungkin budaya ikut berpengaruh dalam hal ini. Kita memilih untuk menutup mulut jika melihat orang melakukan kesalahan. Padahal, tak selamanya diam itu berarti emas. Jika sesuatu memang harus dikonfrontasikan, ya berarti harus dikonfrontasikan. Jika tidak, coba pikirkan mengapa Tuhan menyuruh nabi Natan datang ke istana khusus untuk menegor Daud. Atau mengapa Tuhan mengirim nabi Elia untuk menegor Ahab atas kelakuannya yang jahat? Atau mengapa Yohanes Pembaptis diutus untuk mendahului Yesus dan bicara secara terang-terangan tentang dosa kepada orang Farisi dan ahli Taurat? Jika diam berarti emas, mengapa Tuhan tak mendiamkan saja dosa Daud, toh dia adalah seorang yang berkenan di hatiNya? Mengapa Ia tak mengabaikan perbuatan jahat Ahab, toh dia memang sudah melakukan dosa yang sangat jahat. Sedikit kejahatan lagi mungkin tak akan mengubah nasibnya. Namun, Tuhan melakukan semua itu. Ia melakukan apa yang harus dilakukanNya. Ia mengkonfrontasikan apa yang salah.

Bagaimanapun salah adalah salah. Kita tak bisa menutup mata dan berkata bahwa hitam adalah abu-abu, jadi tetap ada unsur putih di dalamnya, tak sepenuhnya hitam. Kita harus dapat membedakan mana yang benar dan mana yang salah, mana yang baik dan tidak baik, mana yang kudus dan yang tidak kudus, kata Firman Tuhan. Tidak ada area abu-abu di dalam Dia, hanya ada putih atau hitam. Jangan pernah berkompromi dengan kejahatan!

Perasaan bersalah, dapat menjadi sebuah anugerah jika berada di hati yang tepat. Namun dapat berbalik menjadi dosa jika masuk ke dalam mulut yang tidak tepat. Karena ada orang-orang yang memilih untuk tak mendengarkan suara hati nurani mereka, melainkan balik menyalahkan orang lain atas setiap rasa bersalah yang menyergah mereka.

Sungguh sayang jika kita mengabaikan rasa bersalah ini. Toh perasaan ini ditaruh Tuhan sebagai alarm penjaga agar kita tidak melewati batas-batas yang Tuhan tetapkan. Karena seperti kita semua tahu, lewat dari batas, kita akan mendapati bahaya…

Orang Bodoh yang Pintar

Tahu apa definisi bodoh? Semua orang juga tahu. Bahkan orang bodoh sekalipun.

Orang bodoh itu ya orang yang nggak pintar. Karena dia nggak pintar, jadi dia bodoh. Mungkin dia nggak sekolah, nggak mau belajar, atau memang bawaan dari sononya..

Kalo orang pintar kan paling nggak dia pernah belajar, dasarnya memang cerdas, atau memang kelebihan yang Tuhan berikan, entah gimana dia jadi pintar.

Okay. Semua orang juga sudah tahu tentang kedua definisi di atas. Sekarang, pernah dengar tentang orang bodoh yang pintar gak? Hihihihi, ada nggak ya definisinya?

Well, yang namanya orang bodoh kan berarti dia punya kekurangan. Paling nggak dalam hal pengetahuan, walaupun kita gak bisa menyama-ratakan tingkat kebodohan. Misalnya, ada orang yang pintar matematika, tapi giliran pelajaran Bahasa Inggris, mabok kebingungan. Ada yang pintar main piano, tapi langsung gagap kalo disuruh main basket. Ada yang gak pintar dalam pelajaran, tapi pintar berorganisasi. Banyak orang pintar dalam suatu hal, namun kurang dalam hal lainnya. (Hehehe mungkin definisi bodoh ini jadi membingungkan yaah.. Ini membuktikan bahwa standar di dunia ini bisa berubah-ubah, tergantung pada konteksnya!).

Yang menjadi kelebihan bagi orang yang dianggap bodoh sebenarnya banyak. Anggapan bodoh sendiri saja seharusnya menjadi pemacu buat kita untuk mengusahakan yang terbaik. Karena merasa diri bodoh, banyak orang berusaha lebih kuat dan lebih semangat ketimbang yang pintar. Sedangkan yang pintar tadi, karena merasa pintar, jadi merasa sudah cukup ilmu, dan tidak merasa perlu untuk mengembangkan diri lagi. Padahal, rasa cukup itu seperti pisau bermata dua: bisa mendatangkan kepuasan dalam hal materi, namun mendatangkan kemandekan dalam hal pengembangan diri. Alhasil, ketika orang menuntut dari kepintaran kita, bisa-bisa kita didapati tak memiliki apa yang kita kira kita miliki..

Tuhan pernah menegor jemaat Laodikia yang merasa diri kaya dan telah memperkaya diri, tidak kekurangan apapun, padahal sebenarnya mereka lemah, miskin, buta, telanjang dan hina. Jangan sampai sebagai umat Tuhan kita merasa cukup di dalam Dia. Baik dalam iman, kesetiaan, cinta dan pengharapan kita. Siapa yang mencintai uang takkan puas dengan uang, dan siapa mencintai penghasilannya takkan puas dengan penghasilannya, tulis Pengkhotbah. Begitu juga dengan Tuhan. Jika kita sungguh mencintaiNya, kita takkan pernah merasa puas denganNya. Selalu ingin lebih dekat, lebih mengenalNya, lebih mengasihiNya.

Barangsiapa yang teguh berdiri, hati-hatilah jangan sampai ia jatuh, tulis Rasul Paulus kepada jemaat di Galatia. Mungkin saat ini kita berada di puncak. Iman kita kuat, kasih kita menyala, kesetiaan kita nomer satu, bahkan tak ada yang bisa mengalahkan kita dalam hal berdoa. Namun, teruslah merasa miskin di hadapan Allah, agar kitalah yang empunya Kerajaan Sorga. Tetaplah merasa bodoh di hadapanNya, agar diberitahukanNya pada kita jalan kehidupan..

Saturday, July 12, 2008

POLA


Jagad raya terdiri atas pola-pola, demikian salah satu epigram yang ditulis oleh Heraklitos, seorang filsuf Yunani kuno

Kita dapat melihat alam semesta ini sebagai sebuah pola, bukan sistem yang acak. Semuanya teratur dan mengikuti sebuah ‘jadwal’ yang baik. Misalnya, ada 12 bulan dalam 1 tahun, 30 hari dalam 1 bulan, 7 hari dalam 1 minggu, dan 24 jam dalam 1 hari. Semuanya berjalan mengikuti sebuah pola yang terencana dengan baik. Okay. Kita tahu Siapa yang mengatur pergerakan semesta. Tiap orang di dunia ini memahami bahwa ada kekuatan yang lebih tinggi dari dirinya yang berkuasa untuk mengatur semesta.

Namun, tak hanya pada alam semesta, dalam peristiwa sehari-hari pun kita akan menemukan sebuah pola. Pada kebiasaan kita, misalnya. Sekacau apapun jadwal kita, kita akan menemukan pola yang teratur di dalamnya. Pada sifat atau tingkah laku seseorang, misalnya. Atau pada tindak kejahatan. Oleh karena itulah para pencari fakta dan penegak kebenaran acapkali mencari pola yang terdapat pada sebuah tindak kriminal. Entah itu pembunuh berantai, teror yang dilakukan oleh kelompok tertentu, dalam banyak hal orang biasa bertindak sesuai dengan pola mereka masing-masing. Bahkan dalam film pun kamu akan mempelajari bahwa kenyataan ini benar adanya.

Kenalilah dirimu, kata Socrates, maka kebenaran akan membebaskan dirimu. Banyak orang merasa perlu mencari tahu lebih lanjut tentang diri mereka untuk dapat menemukan sesuatu yang lebih baik dalam hidup. Kita pun dapat belajar melalui POLA yang terbentuk dalam hidup kita sejak masa kecil untuk menemukan kebenaran tentang diri kita. Saya percaya tidak ada yang kebetulan di dalam Tuhan. Setiap hal dirancangNya untuk mendatangkan kebaikan bagi kita yang percaya kepadaNya.

Hal-hal yang dapat kita pelajari dalam hidup…

  1. Kebiasaan apa yang tumbuh dari kecil hingga saat ini tetap kamu lakukan?
  2. Dalam hal apa kamu paling sering ribut dengan orang lain?
  3. Dalam hal apa kamu bermasalah?
  4. Bagaimana caramu menerima keberadaan dirimu? Mengapa hal itu dapat terjadi? Ada apa pada masa kecilmu?
  5. Bagaimana caramu menerima keberadaan orang lain? Mengapa hal itu dapat terjadi? Ada apa pada masa kecilmu?
  6. Bagaimana kamu memandang keluargamu? Mengapa demikian?
  7. Menurutmu, apakah hidupmu sudah memuaskan? Mengapa? Jika belum, apa yang akan kamu lakukan untuk mengubahnya?
  8. Bagaimana pendapat orang lain tentang dirimu? Apakah sesuai dengan yang kamu pikirkan? Jika tidak, mengapa demikian?
  9. Apa pendapatmu tentang Tuhan? Percayakah kamu kepadaNya? Bagaimanakah hubunganmu denganNya?
  10. Bagaimana kamu menyikapi persoalan yang terjadi dalam hidupmu? Apakah kamu menerimanya dengan lapang dada, berusaha memahaminya sebagai suatu ujian yang harus dilalui, ataukah kamu melemparkan kesalahan pada orang lain?
  11. Jika ada yang dapat diubah dari dirimu, apa yang akan kamu ubah? Mengapa?
  12. Apa ke’aneh’anmu yang terbesar (maksudnya apa yang membuatmu sangat berbeda dengan orang lain)? Banggakah kamu dengan hal itu, ataukah justru malu dengan kenyataan tersebut? Apakah kamu ingin mengubahnya? Bagaimana caranya?
  13. Apakah mudah bagimu untuk memaafkan atau mengampuni orang lain?
  14. Apakah ada dendam dalam hatimu? Kepada siapa saja? Apa yang telah diperbuatnya?
  15. Siapa yang paling kamu kasihi dalam hidupmu? Apa yang dilakukannya?
  16. Siapakah yang menjadi teladan dalam hidupmu? Dalam hal apa? Mengambil inspirasi darinya, apa yang telah kamu lakukan untuk mengubah dunia?
  17. Siapakah yang paling kamu benci? Mengapa?
  18. Peristiwa apa yang paling membuatmu menyesal dalam hidup? Ingatlah baik-baik dan kisahkan kembali semuanya dengan lengkap!
  19. Peristiwa apa yang paling membuatmu bahagia?
  20. Peristiwa apa yang paling membuatmu sedih?
  21. Peristiwa apa yang paling membuatmu terharu?
  22. Peristiwa apa yang paling membuatmu malu?
  23. Apa yang paling membuatmu terinspirasi?
  24. Apa yang paling membuatmu marah?
  25. Apa yang paling membuatmu kecewa?


Mungkin tak mudah untuk menjawab hal-hal di atas, namun dengan melakukannya, paling tidak kamu sudah menggali kebenaran tentang dirimu. Tulisan dapat mengungkapkan apa yang ada dalam hati dan kepala kita. Jadi kamu harus menulisnya dengan sungguh-sungguh. Jangan perdulikan tanda baca, ejaan atau baik buruknya tulisanmu. Menulis sajalah. Tuangkan pikiran dan perasaanmu di sana. Hanya kamu yang mengenal dirimu dengan baik selain Tuhan. Jangan biarkan orang membodohimu soal kebenaran tentang dirimu tersebut. Kuatlah, tersenyumlah, Tuhan besertamu.

Jika selama ini yang kamu lihat hanya kebodohan, mungkin ini saatnya untuk membaharui pengenalan akan makhluk ciptaan Tuhan yang paling unik yang pernah ada di dunia ini. Hanya satu dan tak ada yang lain: kamu.