Thursday, July 17, 2008

Orang Bodoh yang Pintar

Tahu apa definisi bodoh? Semua orang juga tahu. Bahkan orang bodoh sekalipun.

Orang bodoh itu ya orang yang nggak pintar. Karena dia nggak pintar, jadi dia bodoh. Mungkin dia nggak sekolah, nggak mau belajar, atau memang bawaan dari sononya..

Kalo orang pintar kan paling nggak dia pernah belajar, dasarnya memang cerdas, atau memang kelebihan yang Tuhan berikan, entah gimana dia jadi pintar.

Okay. Semua orang juga sudah tahu tentang kedua definisi di atas. Sekarang, pernah dengar tentang orang bodoh yang pintar gak? Hihihihi, ada nggak ya definisinya?

Well, yang namanya orang bodoh kan berarti dia punya kekurangan. Paling nggak dalam hal pengetahuan, walaupun kita gak bisa menyama-ratakan tingkat kebodohan. Misalnya, ada orang yang pintar matematika, tapi giliran pelajaran Bahasa Inggris, mabok kebingungan. Ada yang pintar main piano, tapi langsung gagap kalo disuruh main basket. Ada yang gak pintar dalam pelajaran, tapi pintar berorganisasi. Banyak orang pintar dalam suatu hal, namun kurang dalam hal lainnya. (Hehehe mungkin definisi bodoh ini jadi membingungkan yaah.. Ini membuktikan bahwa standar di dunia ini bisa berubah-ubah, tergantung pada konteksnya!).

Yang menjadi kelebihan bagi orang yang dianggap bodoh sebenarnya banyak. Anggapan bodoh sendiri saja seharusnya menjadi pemacu buat kita untuk mengusahakan yang terbaik. Karena merasa diri bodoh, banyak orang berusaha lebih kuat dan lebih semangat ketimbang yang pintar. Sedangkan yang pintar tadi, karena merasa pintar, jadi merasa sudah cukup ilmu, dan tidak merasa perlu untuk mengembangkan diri lagi. Padahal, rasa cukup itu seperti pisau bermata dua: bisa mendatangkan kepuasan dalam hal materi, namun mendatangkan kemandekan dalam hal pengembangan diri. Alhasil, ketika orang menuntut dari kepintaran kita, bisa-bisa kita didapati tak memiliki apa yang kita kira kita miliki..

Tuhan pernah menegor jemaat Laodikia yang merasa diri kaya dan telah memperkaya diri, tidak kekurangan apapun, padahal sebenarnya mereka lemah, miskin, buta, telanjang dan hina. Jangan sampai sebagai umat Tuhan kita merasa cukup di dalam Dia. Baik dalam iman, kesetiaan, cinta dan pengharapan kita. Siapa yang mencintai uang takkan puas dengan uang, dan siapa mencintai penghasilannya takkan puas dengan penghasilannya, tulis Pengkhotbah. Begitu juga dengan Tuhan. Jika kita sungguh mencintaiNya, kita takkan pernah merasa puas denganNya. Selalu ingin lebih dekat, lebih mengenalNya, lebih mengasihiNya.

Barangsiapa yang teguh berdiri, hati-hatilah jangan sampai ia jatuh, tulis Rasul Paulus kepada jemaat di Galatia. Mungkin saat ini kita berada di puncak. Iman kita kuat, kasih kita menyala, kesetiaan kita nomer satu, bahkan tak ada yang bisa mengalahkan kita dalam hal berdoa. Namun, teruslah merasa miskin di hadapan Allah, agar kitalah yang empunya Kerajaan Sorga. Tetaplah merasa bodoh di hadapanNya, agar diberitahukanNya pada kita jalan kehidupan..

Saturday, July 12, 2008

POLA


Jagad raya terdiri atas pola-pola, demikian salah satu epigram yang ditulis oleh Heraklitos, seorang filsuf Yunani kuno

Kita dapat melihat alam semesta ini sebagai sebuah pola, bukan sistem yang acak. Semuanya teratur dan mengikuti sebuah ‘jadwal’ yang baik. Misalnya, ada 12 bulan dalam 1 tahun, 30 hari dalam 1 bulan, 7 hari dalam 1 minggu, dan 24 jam dalam 1 hari. Semuanya berjalan mengikuti sebuah pola yang terencana dengan baik. Okay. Kita tahu Siapa yang mengatur pergerakan semesta. Tiap orang di dunia ini memahami bahwa ada kekuatan yang lebih tinggi dari dirinya yang berkuasa untuk mengatur semesta.

Namun, tak hanya pada alam semesta, dalam peristiwa sehari-hari pun kita akan menemukan sebuah pola. Pada kebiasaan kita, misalnya. Sekacau apapun jadwal kita, kita akan menemukan pola yang teratur di dalamnya. Pada sifat atau tingkah laku seseorang, misalnya. Atau pada tindak kejahatan. Oleh karena itulah para pencari fakta dan penegak kebenaran acapkali mencari pola yang terdapat pada sebuah tindak kriminal. Entah itu pembunuh berantai, teror yang dilakukan oleh kelompok tertentu, dalam banyak hal orang biasa bertindak sesuai dengan pola mereka masing-masing. Bahkan dalam film pun kamu akan mempelajari bahwa kenyataan ini benar adanya.

Kenalilah dirimu, kata Socrates, maka kebenaran akan membebaskan dirimu. Banyak orang merasa perlu mencari tahu lebih lanjut tentang diri mereka untuk dapat menemukan sesuatu yang lebih baik dalam hidup. Kita pun dapat belajar melalui POLA yang terbentuk dalam hidup kita sejak masa kecil untuk menemukan kebenaran tentang diri kita. Saya percaya tidak ada yang kebetulan di dalam Tuhan. Setiap hal dirancangNya untuk mendatangkan kebaikan bagi kita yang percaya kepadaNya.

Hal-hal yang dapat kita pelajari dalam hidup…

  1. Kebiasaan apa yang tumbuh dari kecil hingga saat ini tetap kamu lakukan?
  2. Dalam hal apa kamu paling sering ribut dengan orang lain?
  3. Dalam hal apa kamu bermasalah?
  4. Bagaimana caramu menerima keberadaan dirimu? Mengapa hal itu dapat terjadi? Ada apa pada masa kecilmu?
  5. Bagaimana caramu menerima keberadaan orang lain? Mengapa hal itu dapat terjadi? Ada apa pada masa kecilmu?
  6. Bagaimana kamu memandang keluargamu? Mengapa demikian?
  7. Menurutmu, apakah hidupmu sudah memuaskan? Mengapa? Jika belum, apa yang akan kamu lakukan untuk mengubahnya?
  8. Bagaimana pendapat orang lain tentang dirimu? Apakah sesuai dengan yang kamu pikirkan? Jika tidak, mengapa demikian?
  9. Apa pendapatmu tentang Tuhan? Percayakah kamu kepadaNya? Bagaimanakah hubunganmu denganNya?
  10. Bagaimana kamu menyikapi persoalan yang terjadi dalam hidupmu? Apakah kamu menerimanya dengan lapang dada, berusaha memahaminya sebagai suatu ujian yang harus dilalui, ataukah kamu melemparkan kesalahan pada orang lain?
  11. Jika ada yang dapat diubah dari dirimu, apa yang akan kamu ubah? Mengapa?
  12. Apa ke’aneh’anmu yang terbesar (maksudnya apa yang membuatmu sangat berbeda dengan orang lain)? Banggakah kamu dengan hal itu, ataukah justru malu dengan kenyataan tersebut? Apakah kamu ingin mengubahnya? Bagaimana caranya?
  13. Apakah mudah bagimu untuk memaafkan atau mengampuni orang lain?
  14. Apakah ada dendam dalam hatimu? Kepada siapa saja? Apa yang telah diperbuatnya?
  15. Siapa yang paling kamu kasihi dalam hidupmu? Apa yang dilakukannya?
  16. Siapakah yang menjadi teladan dalam hidupmu? Dalam hal apa? Mengambil inspirasi darinya, apa yang telah kamu lakukan untuk mengubah dunia?
  17. Siapakah yang paling kamu benci? Mengapa?
  18. Peristiwa apa yang paling membuatmu menyesal dalam hidup? Ingatlah baik-baik dan kisahkan kembali semuanya dengan lengkap!
  19. Peristiwa apa yang paling membuatmu bahagia?
  20. Peristiwa apa yang paling membuatmu sedih?
  21. Peristiwa apa yang paling membuatmu terharu?
  22. Peristiwa apa yang paling membuatmu malu?
  23. Apa yang paling membuatmu terinspirasi?
  24. Apa yang paling membuatmu marah?
  25. Apa yang paling membuatmu kecewa?


Mungkin tak mudah untuk menjawab hal-hal di atas, namun dengan melakukannya, paling tidak kamu sudah menggali kebenaran tentang dirimu. Tulisan dapat mengungkapkan apa yang ada dalam hati dan kepala kita. Jadi kamu harus menulisnya dengan sungguh-sungguh. Jangan perdulikan tanda baca, ejaan atau baik buruknya tulisanmu. Menulis sajalah. Tuangkan pikiran dan perasaanmu di sana. Hanya kamu yang mengenal dirimu dengan baik selain Tuhan. Jangan biarkan orang membodohimu soal kebenaran tentang dirimu tersebut. Kuatlah, tersenyumlah, Tuhan besertamu.

Jika selama ini yang kamu lihat hanya kebodohan, mungkin ini saatnya untuk membaharui pengenalan akan makhluk ciptaan Tuhan yang paling unik yang pernah ada di dunia ini. Hanya satu dan tak ada yang lain: kamu.

Manusia Biasa vs Setengah Dewa


Raja Daud adalah salah seorang yang hidupnya paling berkenan di hati Tuhan. Dia punya kualitas yang sangat baik –dalam pandangan Tuhan tentunya!- untuk memimpin bangsa Israel. Untuk semua yang dilakukannya ia selalu bertanya kepada Tuhan.

Namun, seperti juga tiap orang lain di muka bumi ini, dia pernah melakukan kesalahan yang fatal dengan berzinah dengan Batsyeba dan membunuh Uria, suamiinya. Kita tahu kisah selanjutnya. Nabi Natan datang kepadanya khusus untuk menegornya dengan kalimat yang terkenal ‘Engkaulah orang itu!’. Dan sangat menarik untuk mempelajari reaksi Daud. Demi mendengar tegoran yang keras itu, bukannya dia merasa gengsi karena kedudukannya sebagai raja terdesak atau mencari pembenaran diri sendiri dengan melemparkan kesalahan pada orang lain (mengapa Batsyeba harus mandi di sembarang tempat misalnya, atau mengapa Uria tak menemaninya saat itu, atau alasan-alasan lain yang bisa saja dikarangnya!), dia memilih untuk menerima kesalahan yang ditujukan kepadanya.

Mazmur Daud yang paling terkenal dalam Alkitab selain Tuhan adalah Gembalaku bukanlah pujian atau pembenaran tentang dirinya, melainkan mazmur tentang pengakuan dosa seperti yang dapat kita baca pada pasal 51.

Mungkin benar kata pepatah bahwa butuh seorang yang besar untuk mengakui kesalahannya dan orang yang lebih besar lagi untuk menutup mulutnya walaupun dia benar. Kita cenderung melemparkan kesalahan pada orang lain seperti Hawa ketika perbuatan kita dipertanyakan. Mungkin ini memang salah satu sifat yang diturunkan dari nenek moyang kita itu. Tapi bagaimanapun, ada baiknya kita berkaca pada Daud yang bersedia melihat ke dalam hati nuraninya ketika ia melakukan kesalahan, bukannya melemparkan kesalahan seperti Hawa. Toh kita memang hanya manusia biasa yang suatu saat bisa berbuat kesalahan. Kita belum sempurna (kecuali kita merasa ‘setengah dewa’ yang tidak pernah berbuat salah!). Mengapa takut mengakui kesalahan?

Jika kita merasa sukar untuk mengakui kesalahan, mungkin ada beberapa tips untuk dilakukan:

  • Latih kepekaan untuk mendengar suara hati nurani. Tuhan menaruh alarm bernama hati nurani dalam diri tiap orang untuk mengingatkan jika kita melakukan kesalahan. Jika tidak dilatih, lama-lama kepekaan kita akan tumpul dan suara hati itu akan berbicara lebih pelan, semakin pelan, hingga akhirnya diam.

  • Belajarlah untuk membedakan mana yang benar dan mana yang salah, karena hal ini sangat penting. Berulang-ulang Tuhan mengingatkan pada Musa, Harun dan seluruh bangsa Israel untuk dapat membedakan mana yang benar dan salah, mana yang baik dan jahat. Mungkin standar benar dan salah ini beda pada diri tiap orang, tapi ada hukum Allah yang mengatur semuanya. Jika dalam hukum Allah kita tak mendapati aturannya, kembalilah pada hukum hati nurani untuk membedakannya!

  • Minta Tuhan memberi kerendahan hati pada kita untuk dapat menerima kesalahan kita (kecuali Anda merasa diri ‘setengah dewa’ yang tak pernah salah!). Ingatlah bahwa awal dari kehormatan adalah kerendahan hati. Jika kita mengawali dengan kesombongan, jangan-jangan kita sedang berjalan menuju kehancuran..

  • Biar Tuhan berjaga pada hati dan mulut kita. Agar tiap kali kita mulai berkata yang melenceng dari kenyataan atau berpikir yang ‘tidak seharusnya’, Allah tidak tinggal diam, namun mengingatkan kita.

Friday, July 11, 2008

PERATURAN DIBUAT UNTUK DILANGGAR?

Peraturan dibuat untuk dilanggar, kata beberapa orang.
Apa kamu setuju? Atau kalimat tersebut di atas juga jadi mottomu?

Mungkin buat sebagian orang, peraturan memang dibuat untuk dilanggar. Namun mereka tidak tahu bahwa saat melakukannya, mereka sedang berjalan di jalan yang menuju kebinasaan. Tuhan memberi perintahNya untuk kita taati, seperti janjiNya, jika kita berjalan menurut ketetapan dan perintahNya, maka kita akan beruntung dan berhasil di manapun kita berada, jauh dari segala celaka atau bahaya yang mungkin mengancam.

Jika ditanyakan pada banyak remaja mengapa mereka gagal, mungkin jawaban sama dapat kita temui: karena tak ada yang mencegah mereka dari melakukan hal-hal tersebut. Orang tua terlalu sibuk, teman-teman senasib mengajak untuk masuk dalam perkumpulan mereka yang gak jelas, iman mulai ditertawakan orang (jadi mereka agak gengsi berjalan berlawanan dengan arus). Jadi ke mana kita harus menuju? Ya ke jalan yang banyak diikuti orang..

Mungkin ini hanya pemikiran yang sangat sederhana dan gak enak didengar. Tapi jika kita mencoba untuk menaatinya, kita akan terhindar dari banyak celaka.

Misalnya…

  • Kenapa sih kita gak boleh make narkoba?

Karena kita gak tahu bagaimana keadaan tubuh kita nanti. Kita mencoba karena kita tidak tahu. Baik rasanya, kegunaannya, maupun akibat buruk pada tubuh kita sebelum kita mencicipinya sendiri. Dan gak jarang, penyesalan yang –seperti kata pepatah- selalu datang terlambat, datangnya memang benar-benar terlambat: setelah uang habis, setelah ditinggalkan teman, setelah tubuh terkena virus mematikan, setelah tubuh rentan terhadap berbagai penyakit, setelah sekian tahun hidup dalam kepura-puraan terhadap orang-orang terkasih. Kenapa sih kita harus ketemu hal yang buruk dulu sebelum berubah? Kalo saya boleh menyarankan, berubahlah sebelum semua hal buruk itu datang pada kita. Buang jauh-jauh pikiran kita dari ‘hanya nyoba’ jika itu berkaitan dengan keselamatan diri sendiri. Jika nantinya kita bakal kena efek yang serius, jika nantinya kita bakal berbohong pada orang tua, berpura-pura terhadap sahabat, nantinya bakal menderita penyakit gak jelas, mendingan nggak deh. Apa sih susahnya say no pada drugs dibanding sekian banyak kemungkinan buruk yang akan menimpa?

  • Kenapa sih gak boleh berhubungan seks sebelum menikah?

Karena Tuhan menaruh segel pada bagian tubuh kita untuk tak dibuka sebelum waktunya. Kalo kamu beli barang (kecuali dari black market!), perhatiin baik-baik deh tulisan yang ada pada kemasannya. Jangankan barang mahal, air mineral yang gak seberapa aja menganjurkan untuk ‘jangan diterima bila segel rusak’. Segel adalah jaminan bahwa barang itu resmi dan dapat dipertanggung jawabkan oleh perusahaan yang menjualnya. Kalo segelnya rusak ya jangan harap komplainmu diterima. Demikian juga dengan kita. Ketika kita pikir segel itu hanya sebuah mainan, gak ada yang akan bertanggung jawab jika nanti terjadi hal yang buruk padamu. Memangnya enak punya anak di usia kita seharusnya bermain dengan teman-teman kita? Apalagi di jaman serba susah gini, menghidupi diri sendiri saja susah bagi sebagian orang, apalagi menghidupi seorang bayi yang tak diharapkan. Gak kebayang deh..

Belum lagi kalo kekasihmu tercinta ternyata gak mau bertanggung jawab. Orang tua mengusirmu. Sekolah mencoret namamu dari daftar siswanya. Teman-teman menjauhimu. Mau ke mana kamu? Apa yang akan kamu lakukan dengan hidupmu? Padahal, oh, jika tidak, kamu masih punya harapan bagi masa depanmu!

Ok. Mungkin nggak sampe kejadian kamu hamil atau kalo kamu cowok, gak harus bertanggung jawab atas apapun. Tapi ada kemungkinan lain.. bagaimana jika kamu menikah dengan orang lain nanti? Tegakah kamu menceritakan kepada pasangan hidupmu tentang siapa-siapa saja yang pernah menyentuh tubuhmu? Atau apa-apa saja yang pernah dilakukan orang terhadap tubuhmu?

Tubuh kita adalah Bait Allah. Barangsiapa membinasakan tubuhnya, Allah akan membinasakannya, kata Alkitab. Mungkin sekarang belum terlihat hasilnya, tapi selama bumi masih ada, maka takkan berhenti-henti musim menabur dan menuai. Apa yang kita tabur sekarang, akan kita tuai kelak. Jika kita menabur kerja keras, kelelahan dan tak memberi kesempatan pada tubuh kita untuk istirahat, atau menggunakannya untuk kenikmatan sementara saja, kelak, entah bagaimana kita akan menuai hasilnya. Jadi, oh, kalau boleh saya memohon.. berhati-hatilah merawat dan menjaga tubuhmu. Bukan hanya untuk memuaskan keinginannya, atau supaya terlihat indah dipandang bagi orang lain, tapi agar Nama Allah dipermuliakan!

  • Kenapa gak boleh bolos sekolah?

Karena yang rugi ya kamu sendiri nantinya. Entah bagaimana, usia sekolah memang usia yang sangat baik untuk belajar dan menyerap ilmu sebanyak-banyaknya. Setelah selesai nanti, kamu akan menghadapi dunia kerja, dunia yang sma sekali lain dengan dunia sekolah. Di sana ada intrik, persaingan, jegal-menjegal, gossip, hutang (yah, waktu sekolah kan tinggal minta sama mama. Sekarang karena dah kerja ya malu dong jadi parasit terus sama orang tua..), mengatur pengeluaran, dan banyak hal yang kamu belum kenal ketika masih bersekolah. Setelah itu, kamu akan memasuki dunia pernikahan. Ini dunia yang tak dapat diceritakan. Kita harus mengalaminya sendiri agar tahu bagaimana rasanya. Ada yang bilang pernikahan itu membahagiakan, ada yang bilang sebaliknya. Namun semuanya sangat sangat berbeda dengan keadaan yang nyaman semasa kamu bersekolah.

Ketika kamu sudah melangkah pada dunia kerja, apalagi pernikahan, akan lebih susah bagimu untuk belajar kembali. Ada tanggung jawab yang harus kamu pikul. Ada orang-orang yang harus kamu layani. Ada kewajiban yang harus kamu lakukan. Ada tuntutan yang harus kamu penuhi. Gak mudah untuk menyelaraskan keduanya. Sedangkan semasa sekolah, kewajibanmu kan hanya belajar..

Jika kamu harus belajar, sebenarnya kamu sendiri yang akan diuntungkan. Kamu bertambah pintar. Kamu bisa menghidupi dirimu sendiri dengan layak (Hey, beda ijazah pasti beda gaji, dong). Kamu bisa memilih pekerjaan yang kamu inginkan (apa sih pekerjaan orang yang hanya lulus SMP? Apa mereka bisa milih?). Kamu bisa -paling nggak- lebih mudah menggaet jodoh (orang kan tertarik pada orang yang lebih pintar dari dirinya).

Pokoknya, kalo urusan sekolah yang dipertaruhkan, jangan ambil resiko, deh. Kamu akan menanggung banyak hal yang tak bisa kamu tanggung nanti. Gak ada kompromi deh kalo soal ini!

  • Kenapa harus menurut sama orang tua?

Karena mereka biasanya tahu mana yang paling benar. Walaupun mereka juga bisa salah, tapi mereka punya wawasan yang lebih luas dari kamu. Kalo pendapat mereka benar, jangan gengsi, turuti saja. Kalo sekiranya mereka salah, dengar saja dulu alasan mereka. Gak ada orang tua yang akan mencelakakan anak mereka.

Mungkin sekilas, peraturan tampak merugikan dan membatasi kita. Tapi jangan lupa fungsi utamanya yaitu mencegah kita dari segala hal buruk yang mungkin terjadi. Jika suatu saat kamu bingung harus menaati peraturan atau mengikuti kebanyakan temenmu yang menganggap peraturan untuk itu memang untuk dilanggar, pertimbangkan baik-baik untung ruginya, deh..

Tuesday, July 1, 2008

Turun Harga

Aku pernah baca tentang seorang wanita yang bahagia membelikan jaket cantik buat anak perempuannya dengan harga yang lumayan buat kantongnya. Melihat putrinya mengenakan jaket pemberiannya, dia merasa sebagai ibu yang paling bahagia sedunia (kurang lebih gitu deh, pokoknya!).

Tapi kemudian, kira-kira dua minggu setelah itu, ia melihat jaket yang dia beli sudah berganti harga. Jika tadinya harganya $39.99, tiba-tiba harganya sudah berubah jadi $19.99. Hmmhh... perempuan yang suka belanja dan tahu berhitung di seluruh dunia ini pasti tahu deh gimana rasanya!
Sempat, ada rasa sebal karena penurunan harga dari jaket yang dia beli untuk putrinya.

Tapi, kemudian dia menyadari bahwa kadang, seperti itulah penilaian terhadap diri kita. Jika kita memakai sesuatu yang mahal, kita menganggap bahwa diri kita berarti. Namun, tanpa semua yang keren itu, kita suka menganggap diri kita bukan apa-apa. Padahal, apa sih yang berubah? Hanya label harga. Jaketnya tetap sama, yang make tetap sama, sama sekali gak ada yang berubah!
Mungkin begitulah keadaan tiap manusia di jaman serba digital ini. Merasa harga diri terangkat jika bisa membeli atau memiliki sesuatu. Mungkin itu sebabnya para pembuat iklan minta bayaran gede, kali yee.. Soalnya, mereka harus bisa mendongkrak gengsi para konsumen untuk membeli produk milik klien mereka. Kalo iklan yang dibuat gak mampu menyentuh sisi ego konsumen, mana mungkin ada yang disebut pasar. Kalo tiap orang gak menyempatkan diri untuk nonton TV atau konsen sama hal lain yang lebih penting dalam hidup, mungkin banyak produk akan teronggok dengan menyedihkan di gudang..

Well, memang gak salah untuk memiliki banyak hal dalam hidup. Tapi bukan itu tolok ukurnya. Kita hanya seperti jaket tadi yang 'harganya' bisa berubah kapan saja, tergantung di tangan siapa kita berada. Kalo harga diri kita hanya kita ukur berdasarkan harga barang yang kita miliki, mungkin kita harus mendefinisi ulang siapa kita sebenarnya. Ingat saja bahwa di sorga nanti Tuhan gak akan pernah bertanya merk apa saja yang ada di lemari pakaian kita, tapi apa yang sudah kita hasilkan bagi kemuliaan NamaNya..

Monday, June 30, 2008

Gak Boleh Setengah-Setengah

Waktu mo kasih hadiah buat Lomba Solo yang diadakan di gereja kami, suamiku marah karena aku buru-buru mo bawa hadiah-hadiahnya ke gereja, padahal rencananya kan mo bikin surprise...
'Kalo mo bikin surprise, jangan setengah-setengah', katanya.

Emtah kenapa, aku banyak sekali denger kalimat 'Gak boleh setengah setengah' beberapa hari ini. Waktu kupikir-kupikir, bener juga. Kita memang gak boleh setengah setengah seperti nasehat suamiku. Tuhan saja benci sama yang setengah setengah. Dia mengharuskan kita memilih mau dingin atau panas; jangan suam-suam.

Coba kita pikirkan sisi buruknya setengah setengah:
Setengah bodoh = setengah pintar (apa bedanya?)
Setengah penuh = setengah kosong
Setengah bahagia = setengah sedih
Setengah mengasihi Tuhan = setengah mengasihi yang lain
Setengah semangat = setengah putus asa
Setengah disukai = setengah dibenci
Setengah percaya = setengah kuatir

Aduh, kalo dipikir-pikir lagi, gak ada bagusnya deh yang namanya 'setengah' itu!
Mungkin kita pikir kita aman dengan menempatkan diri di tengah. Setengah, atau agak, atau sedikit, atau rada atau gak terlalu mungkin istilahnya. Tapi kan tetap sama aja intinya.
Sekarang pikir lagi..
Mendingan mana:
Agak pintar atau agak bodoh?
Agak waras atau agak gila?
Rada bener atau rada salah?
Ya sama aja walaupun yang rada negatif lebih enak didenger. (Lebih baik kita dibilang agak bodoh daripada agak pintar, kaan? Kalo agak pintar kok kesannya banyakan bodohnya..:)).

Gimanapun alasannya, lebih baik kita putuskan mau ke mana deh. Jangan setengah setengah. Kalo dalam perjalanan hidup ini kita melangkah setengah setengah ya bakal berputar doang deh perjalanan kita. Misalnya gini. Kalo bahagia kita maju, tapi kalo sedih kita mundur. Ya, itu kan sama saja 2 langkah maju, 3 langkah mundur. Atau 4 langkah mundur 5 langkah maju. Kayaknya banyak melakukan langkah pasti namun setelah dihitung ternyata jalannya di situ situ aja, gak ke mana-mana.

Jika saat ini kamu lagi bingung dengan hidupmu. Coba deh, pegangan dulu (ini ide yang sedikit pintar!). Jangan ragu, putuskan sekarang. Maju atau mundur. Semangat atau lemah. Percaya atau takut. Berjalan dengan Tuhan atau mengikuti kehendak sendiri. Iya atau tidak. Jangan plin plan dong..

Bisa jadi ini hal yang simpel. Tapi jangan salah. Hal sederhana ini bisa mempengaruhi perjalanan kita. Mau maju terus sampai di sorga, atau hanya berputar-putar saja dalam lingkaran yang tiada akhir di dunia yang gelap ini..

Hidup ini memang -kalo saya boleh menyimpulkan- sebetulnya hanya sebatas motto Indonesian Idol 'Anda yang memilih, Anda yang memutuskan'.

Friday, June 27, 2008

Kamp Pelatihan TUHAN


Pelatihan Tuhan seringkali membingungkan bagi kita. Dan ini terjadi dalam hidup tiap orang, terutama mereka yang akan dipakai oleh Tuhan menjadi alatNya. Seorang hamba Tuhan pernah katakan bahwa tiap orang yang akan dipakai secara luar biasa oleh Tuhan pasti akan mengalami proses penghancuran terlebih dahulu.

Elia, seorang nabi besar adalah contohnya. Sebelum dipakai Tuhan untuk membuat mujizat, ia harus mengalami pelatihannya Tuhan.

1. Dia harus tinggal di tepi sungai Kerit
Kerit artinya: dicincang sampai habis. Ini tempat dimana dia disisihkan dari dunia, dari sorotan dan tempat dia belajar untuk menggantungkan sepenuh hidupnya pada Tuhan. Bayangkan, dalam keadaan kekeringan di jaman itu, ia harus berharap burung gagak memberinya makan 2 kali sehari. Jika itu bukan ketergantungan pada Tuhan, apa lagi namanya?

2. Ia harus pergi ke Sarfat
Sarfat artinya ujian. Jarak dari sungai Kerit ke Sarfat diperkirakan 100 mil jauhnya, melalui padang terbuka. Bayangkan bagaimana perasaan Elia menjalani perjalanan tersebut dengan bangkai-bangkai binatang di sekelilingnya (ingat waktu itu sedang terjadi kekeringan), sedangkan dia adalah orang yang paling dicari oleh raja Ahab. Kapanpun dia dapat mati terbunuh. Tapi toh, sampai juga dia ke tempat tujuannya.

Seringkali, Tuhan menyuruh kita pergi ke tempat yang tak kita inginkan. Ia bawa kita pada dapur peleburan untuk dipanaskan, dimurnikan dan diuji. Tempat itu bisa jadi sangat menyakitkan, namun percayalah jika Tuhan yang memimpin perjalanan kita, maka Dia ingin kita menguatkan bagian-bagian rohani kita yang masih lemah.
Di sini Elia membuat janda di Sarfat percaya kepada Allahnya. Di sini juga dia mengadakan mujizat yang belum pernah terjadi, yaitu membangkitkan anak perempuan janda itu yang mati.

Setelah semuanya selesai, barulah Tuhan menyuruh Elia menemui Ahab. Dan kisah selanjutnya adalah sejarah. Tuhan melakukan mujizatNya lagi melalui sang nabi dengan mengirimkan api dari langit membakar habis korban bakarannya dan merendahkan nabi-nabi Baal. Melalui hal ini, iman orang Israel dibangkitkan lagi pada Tuhan.

Sebelum sampai pada mujizat, Elia harus mengikuti pelatihannya Tuhan yang tak mudah. Ada sungai Kerit dan tempat bernama Sarfat. Rasanya, tiap orang yang akan dipakai Tuhan terlebih dahulu ditempatkanNya pada Kerit dan Sarfat mereka masing-masing.
Daud di padang gurun.
Paulus di Damsyik.
Yusuf di penjara.
Musa di padang gurun Midian.
Yakub di Pniel.
Sadrakh, Mesakh dan Abednego di dapur api.
Dan Yesus di salib.

Kerit dan Sarfat kita mungkin tak berupa tempat, melainkan lingkungan kerja, atau keluarga, atau keadaan, atau pelayanan, banyak hal membuat kita bagai berada di Kerit, tempat kita 'dicincang sampai habis'. Bahkan seakan tak cukup, diuji lagi dalam dapur peleburannya Tuhan yang panas.

Jika itu sedang terjadi, ingatlah bahwa semakin Tuhan menghancurkan hidup seseorang, biasanya semakin Ia akan menjadikan orang tersebut alat pilihanNya yang luar biasa. Jangan lari, jangan memberontak atau mengeluh. Jalani dengan sukacita. Anggap saja kita sedang berada di kamp pelatihannya Tuhan untuk dibentuk jadi prajuritNya yang berhati baja. Atau mungkin, Ia sedang memurnikan kita agar kualitas emas itu nampak dalam diri kita. Jangan menyerah, karena Ia akan bertindak pada waktuNya yang tepat, mengangkat kita dari panasnya tempat peleburan ini dan menyatakan kemuliaanNya melalui hidup kita..

Sunday, June 22, 2008

Beda Kita dengan Orang Dunia


Pikirkan: Ingin dikenal sebagai orang yang bagaimanakah kamu? Yang keren, kaya, pintar, terkenal, rajin, baik hati, jujur dan bertanggung jawab? Ataukah sebagai orang yang cacat, bodoh, pendusta, menyebalkan, tukang tipu dsb (yang kriterianya gak enak didengar)?

Tiap orang pasti memilih yang baik. Ini sudah bawaan dari sononya. Namun, taukah kamu bahwa setiap pilihan yang baik tanpa penyertaan Allah berarti kesia-siaan?
Bayangkan ada betapa banyak tokoh Alkitab yang hebat namun mengakhiri hidup sia-sia karena tak mendapat penyertaan Tuhan. Berikut, nama tokoh hebat Alkitab versi saya yang jarang diakui orang...

1. Goliat. Mungkin orang menganggapnya lemah karena kalah terhadap Daud. Tapi bayangkan keadaan medan perang sebelum Daud datang. Goliat mengintimidasi tentara Israel. Tak ada satu pun yang berani mendekat kepadanya. Bahkan dia adalah andalan negrinya. Badannya tinggi, besar, ahli berperang, punya wibawa yang cukup besar, bahkan keberaniannya luar biasa. Namun, tanpa penyertaan Tuhan, kita semua tahu bagaimana akhir hidupnya..

2. Izebel. Kenapa dia hebat? Karena dia berhasil membuat salah seorang nabi yang dianggap paling besar dalam sejarah Israel menderita dan depresi! Dia berhasil menguasai hati suaminya, sang raja dan melakukan tujuan-tujuannya dengan siasat yang hebat. Dia benar-benar tahu apa yang dia inginkan dalam hidup. Sungguh menakjubkan bukan, jika kita punya kesempatan untuk mengenal seorang wanita yang berpendirian teguh macam dia?

3. Absalom. Ganteng, keren, anak raja, (pastinya banyak duit dong..), terpandang dan disukai semua orang. Well, apa lagi yang kurang, coba? Bahkan dia berhasil membuat raja Israel mengungsi keluar dari istananya. Hebat gak..

4. Herodes. Dia seorang raja yang berhasil mengukuhkan namanya dalam sejarah Israel. Bahkan sejarah mencatat tentang kehebatannya menguasai klannya walaupun menurut berita, dia sedikit sakit jiwa..

Yeah, mungkin masih banyak lagi nama hebat yang jarang diakui orang seperti nama-nama di atas. Mereka hebat dan benar-benar tahu apa yang mereka inginkan dalam hidup. Namun apa hasil akhirnya? Mereka hidup dan mati dalam kesia-siaan. Mengapa? Karena mereka tak disertai Tuhan.

Bandingkan dengan...
Daud yang menghadapi singa dan beruang di padang
Yusuf di rumah Potifar sebagai budak; juga di penjara
Daniel di negara yang menawannya
Yosua di medan perang
Musa di padang gurun

Mereka ini orang-orang yang mengawali hidup mereka dengan kisah yang gak terlalu populer untuk diceritakan, namun mengakhiri hidup mereka dengan sebuah kepastian dan kemenangan, karena mereka disertai Tuhan.

Tempat kita bukanlah alasan kita jadi hebat atau tidak. Waktu kita hidup bukanlah alasan yang membedakan kita dari orang lainnya. Yang membedakan kita hanyalah satu hal: penyertaan Tuhan dalam hidup kita.

Mungkin kamu merasa bagai di padang gurun sekarang ini, sendiri dalam sunyi. Atau di penjara, yang mengungkung kebebasanmu. Atau bisa jadi di medan perang menghadapi begiitu banyak persoalan dalam hidup. Jangan takut dengan keadaan atau apa yang kamu miliki, tapi mintalah penyertaaan Tuhan untuk menuntun setiap langkahmu, agar kita dapat merasakan bahwa kita tidak sama dengan orang lain (sehebat apapun mereka) yang tidak beroleh penyertaan Tuhan..

Jika Allah di pihak kita, siapakah lawan kita?

Jangan Buat Alasan

Menurut pepatah Yiddish, 'Jika kamu tak mau melakukan sesuatu, alasan yang satu akan sama baik dengan alasan yang lain'.

Memang bener sih, kita sukaa sekali mencari alasan kalo gak mau melakukan sesuatu. Menurut pepatah lain lagi, 'Jika kita mau ada 1000 jalan, jika kita gak mau, ada 1000 alasan'. Selalu ada alasan yang tepat jika kita gak mau. Sakitlah, gak bisalah, berhalanganlah, gak moodlah, banyak deh!

Gak jarang, di dalam Tuhan kita pun membuat alasan seperti itu. Padahal, sering banget kan kita denger bahwa Tuhan gak butuh mereka yang berkualitas, karena Dia akan memberi kualitas pada mereka yang bersedia dipilihNya? Habis, gimana yah, manusia selaluu aja punya segudang alasan kalo disuruh. Tapi coba kalo minta sama Tuhan, pasti maunya SEKARANG. Adil gak siiih...???

Coba renungkan..
Nuh mabuk.
Musa terlalu lembut.
Yusuf seorang budak.
Sarai mandul.
Yakub penipu.
Daud berzinah.
Elia depresi.
Petrus menyangkal.
Tomas tak percaya.
Maria Magdalena wanita berdosa.
Zakheus nilep duit. Dan daftar ini masih bisa berlanjut..

Mungkin kita punya kelemahan dan kekurangan, namun jangan buat alasan. Jika Tuhan percayakan kita melakukan sesuatu, Dia akan memampukan kita melakukannya!

Friday, May 2, 2008

Tengku Ryan, Tukul, Gogon, dan.. Kita (Sindrom Ketemu Seleb)

Kemarin, sehabis kebaktian Kenaikan Tuhan Yesus, kami makan di sebuah resto. Ternyata, resto itu sudah dipesan oleh rombongan motor HD yang sedang tour. Dan di antara mereka, tebak ada siapa? Tengku Ryan. Wah, bisa bayangin gak sih hebohnya cewek-cewek ngeliat cowok ganteng gitu? Hmmhhh.....

Biasalah, sindrom ngeliat artis.. Kayaknya, tiap orang tuh selaluu aja kesengsem kalo liat artis. Biarpun misalnya Tukul yang dateng, pasti bawaannya heboh deh. Pengen salamanlah, foto bareng, minta tanda tangan dsb. Waktu aku ceritain sama seorang teman tentang ketemuan sama Tengku Ryan kemaren, dia –seperti sudah bisa ditebak- bilang gini 'Kok nggak SMS sih? Harusnya SMS dong biar aku ke sana...'. Sedangkan ada kenalanku yang ketemu sama Gogon di bandara aja sempet-sempetnya ngajak salaman. Iseng banget yah? Hihihi. Soalnya mereka tuh punya kesamaan: berjudul artis (atau selebriti). Coba kalo Tukul hanya sopir pribadi. Apa ada yang mau nyium-nyium dia? Boro-boro. Tapi karena dia seleb ya lain dong kisahnya.. Tapi nggak cuma kita, ternyata tiap orang di seluruh dunia ini memang suka ngeliat orang keren. Konon, di London pernah terjadi kemacetan karena banyak orang berhenti untuk perhatiin Leonardo diCaprio lagi syuting di daerah situ. Tuh kaan...

Orang dunia selalu suka dengan 'seseorang'. Paling nggak mereka tertarik pada seseorang yang hebat, keren, cantik, pintar, terkenal, pokoknya punya sesuatu untuk dibanggakan. Jika kita bukan siapa-siapa, jangan harap mereka menoleh penuh kekaguman deh, atau mengangguk hormat, yang ada 'mah memandang sebelah mata..

Ternyata, hal ini memang sudah jadi bakat bawaan manusia dari jaman dulu. Kalo hukum rimba menyatakan siapa yang kuat dia yang berkuasa, maka di dunia ini judulnya siapa yang bersinar paling berkilau, dia yang paling dapet perhatian. Masalah tahun depan dia sudah tergeser mah masalah lain. Yang penting, selama dia masih bersinar, semua orang bakal sibuk memujanya..

Melihat kenyataan itu, kita suka jadi ciut dan berharap seandainya kita lebih ini dan itu supaya bisa dapet banyak perhatian dari orang lain. Tapi Alkitab nggak pernah membahas hal itu. Buktinya, banyak tokoh Alkitab berangkat dari status bukan siapa siapa. Elia misalnya, hanya disebut sebagai 'Elia orang Tisbe, dari Tisbe Gilead' (I Raj 17:1). Tidak ada catatan apa-apa mengenai keluarganya, silsilahnya, kehidupan masa kecilnya atau apapun yang menjelaskan tentang dia. Tapi toh dia menjadi salah satu nabi besar yang dipakai Tuhan secara luar biasa.

Daud adalah contoh lain. Ketika semua kakaknya di'jentrek' (ini istilah orang Tegal yang artinya dibariskan atau dideret) untuk diaudisi menjadi raja, dia sama sekali tak masuk nominasi. Bahkan oleh ayahnya sendiri, dia hanya dianggap sebagai gembala domba, bukan seseorang yang patut dinominasikan menjadi raja. Tapi toh, Tuhan sendiri yang akhirnya mengangkatnya. Kita semua tahu kisah selebihnya. Banyak orang melihat bahwa Tuhan beserta dengan Daud dalam tahun-tahun kehidupan selanjutnya. Dan betapa dia kemudian sangat diberkati sudah bukan rahasia lagi bagi kita.

Yesus sendiri dipertanyakan. Ingat pertanyaan Natanael yang sangat terkenal itu? 'Apakah sesuatu yang baik datang dari Nazareth?'. Atau pertanyaan orang sekampungNya, 'Bukankah Dia ini anak tukang kayu?'. (Jadi jangan marah dong kalo kamu juga dipertanyakan. Emang siapa lu? :) ).

Kadang, kita pikir kita harus hebat, sensasional, berkelas atau seksi supaya bisa mendapat perhatian banyak orang. Kita harus lebih pintar agar dibanggakan orang tua, lebih keren supaya gampang dapet pacar, lebih kreatif supaya lebih diperhatikan boss, atau hal-hal semacam itu. Padahal nggak jarang dengan melakukannya, kita jadi kehilangan identitas pribadi kita yang sesungguhnya. Jika Alkitab mencatat banyak tokohnya bermula sebagai 'bukan siapa-siapa', saya percaya bahwa ada pesan yang hendak disampaikan pada kita sebagai umat Tuhan untuk tidak mengandalkan kelebihan kita secara lahiriah.

Jangan pernah takut menjadi kelas dua (entah apa sebutannya: pecundang?) atau menjadi 'bukan siapa-siapa' sekalipun. Jika Tuhan mendapati kualitas yang ada dalam diri kita, nggak mustahil Dia akan melakukan sesuatu yang lebih dari apa yang dapat kita pikirkan. Yang penting bukanlah siapa kita, melainkan apa yang ada dalam hati kita. Kita bisa memalsukan identitas pribadi kita dengan pakaian mewah, perhiasan berkilauan atau apa yang tampak sebagai tampilan luar kita. Namun Tuhan yang melihat hati tak dapat dibohongi dengan semua kemilau palsu itu. Jika setelah mengenakan semua yang berkilau itu kita jadi tak dapat mengenali diri kita yang sebenarnya, lalu siapa diri kita sesungguhnya?

Jika kita mengawali langkah kita sebagai bukan siapa siapa, tak dikenal orang, bahkan mungkin di'under estimate'kan seperti kata Tukul, berbahagialah. Siapa tahu Tuhan sedang memproses kita untuk jadi seseorang dengan caraNya yang misterius. Cari tahu apa yang Dia kehendaki dan berjalanlah bersamaNya. Jika kita nggak bisa melakukan lompatan-lompatannya, Tuhan bisa melakukan terobosan-terobosan yang sensasional dengan caraNya sendiri bagi kita.

Kekayaan, kepopuleran dan keindahan dapat berlalu seiring berjalannya waktu. Tapi hati kita dapat dibaharui di dalam Tuhan. Jika selama ini kita memberikan hidup pada apa yang hanya bersifat sementara, mungkin ini waktunya bagi kita untuk lebih merenungkan tentang arti hidup ini. Bukankah lebih baik kita mengejar apa yang tak tampak namun sifatnya kekal?

Menurut kamu, hal-hal apa saja itu?